Putri sulungku yang bernama lengkap Alifa Numa Zahira, kerap mengikuti lomba tari saman dengan tim tari saman SMAN 12 Jakarta Timur, tempatnya menuntut ilmu. Numa, begitu sapaan akrabnya, terpilih menjadi tim inti dan Alhamdulillah berhasil mendapat peringkat pertama sampai ketiga di kejuaraan tari saman yang sudah sering diikutinya.
Proses untuk bisa menjadi tim tari saman SMAN 12 tidaklah mudah. Ketika itu, Numa duduk di kelas X. Ia mendaftar menjadi anggota tim tari saman. Ternyata sejak kecil, ia memendam bakat menari. Memang sejak SD, ia sudah sering mengikuti lomba foto dan menjadi MC di setiap acara di sekolah. Beberapa kali pun didampuk menjadi model majalah sekolahnya. Namun, saya tak menyangka bahwa ia memiliki bakat menjadi seorang penari. Zaman dahulu kala, neneknya adalah seorang penari balet dan saya juga pernah menari Bali, Jawa, Sunda, Melayu dan India; meskipun tidak pandai dan tidak pernah ikut lomba.
Pada saat mendaftar, ada 50 siswi yang bercita-cita menjadi penari saman sekolah. Dari 50 siswi tersebut, hanya dipilih 20 orang yang akan menjadi penari pemula. Proses seleksi sangat ketat. Tim yang menyeleksi adalah guru pembina, Ibu Erni, kakak kelas yang sudah mahir dan senior, serta penabuh gendang. Para pendaftar ditutup matanya dengan secarik kain berwarna hitam dan diminta menari dengan gerakan yang telah dicontohkan sebelumnya oleh senior. Alhamdulillah ternyata Numa bisa menari sambil menutup mata! Masya Allah, tidak saya sangka lagi bahwa ia bisa menari sambil menutup mata. Padahal tari saman termasuk tari yang gerakannya sangat sulit dan membutuhkan kecermatan dan daya ingat yang tinggi.
Ketika duduk di kelas X, Numa berlatih dari Senin-Kamis sore, selepas pulang sekolah. Ia gagal lolos pemilihan anggota OSIS karena sudah ditetapkan menjadi tim inti tari saman. Meskipun sempat 2 hari bad mood dan menangis karena tidak terpilih menjadi anggota OSIS (ketika SMP, ia selalu menjadi pengurus OSIS), ia bangkit lagi karena ia yakin akan bisa mengikuti lomba tari saman dengan timnya.
Di kelas XI, ia mulai mengikuti berbagai macam perlombaan di berbagai sekolah. Saya selalu menyempatkan hadir menonton Numa lomba. Ia selalu berada di barisan terdepan dan Alhamdulillah tidak pernah salah gerakan. Piala dan uang tunai selalu mereka bawa pulang. Saking giatnya berlatih saman, saya sempat ditegur oleh wali kelas X dan kelas XI karena ia sibuk berlatih di dalam kelas, ketika pelajaran berlangsung.
Sekolah sempat menjanjikannya untuk mengikuti pertukaran budaya di Turki. Sayang, pandemi tiba dan semua siswa terpaksa bersekolah dari rumah. Kegiatan tari saman terhenti dan sekarang Numa fokus di pelajaran karena ia sudah duduk di bangku kelas XII. Karena sudah tidak berlatih lagi, ia kini sibuk belajar melalui google meet dengan guru di sekolahnya dan guru di Bimbel Ganesha Operation agar bisa lolos SPMB Universitas Negeri. Alhasil raport Pertengahan Semesternya mengalami kenaikan yang cukup drastis, yaitu mendapat nilai 95 di 5 bidang studi (untuk KI 3 dan KI 4) dan tidak remedial bahkan nilai terkecil adalah 80.
Oya, di foto ini, Numa yang duduk di sebelah kiri. Foto ini diambil oleh ibu Erni ketika tim tari saman mengikuti lomba di SMAN MH Thamrin.
#Day19AISEIWritingchallenge


Buah Jatuh tak jauh dari pohonnya. Misbell yang cantik dan punya kepribadian mengesankan, insya Allah, putrinyapun Top Banget, sukses ya kak Numa
ReplyDeleteSukses untuk kaka..
ReplyDeletemau dong diajari menari
ReplyDeleteCantik dan berbakatnya Numa. Sukses terus yaa ka Numa
ReplyDelete