JANGAN BAPER PART 3 DAN 4



 PART 3

Inilah kondisiku saat ini. Sejak di PHK dari perusahaan resto siap saji tersebut dan ditinggal secara tiba-tiba oleh Shinta, hidupku luntang lantung tak karuan. Usahaku mengirim CV ke beberapa perusahaan ditolal karena aku belum mengantongi ijazah sarjana. Walhasil aku terpaksa menerima pekerjaan sebagai penjaga warnet tetanggaku daripada menganggur dan mendengar omelan Mama di rumah. Lumayan penghasilanku untuk sekedar membeli rokok, bensin dan makan di warteg.

Aku segera mandi dan berpakaian. Kusambar kunci motor di atas meja makan, berusaha menghindari Mama yang saat ini sepertinya sibuk menyetrika pakaian.

"Dimas...nggak sarapan dulu?"

Langkahku terhenti ketika Mama tiba-tiba muncul di pintu ruang tamu.

"Eh Ma..."ujarku gugup. Aku segera mencium tangan Ma dan berlari keluar. "Nggak usah, Ma. Udah telat, nih."

"Kebiasaan kamu. Nanti sakit maag, lho! Udah nggak pernah sarapan. Begadang terus. Jarang sholat Subuh. Makanya rezekimu seret. Hidup nggak teratur, sih." keluh Mama.

"Ya udahlah Ma. Aku pergi dulu yah!"seruku menyalakan mesin motor.


"Hi, Dim! Telat lagi lo? " ujar Irwan, si pemilik rental komputer.

"Eh...sorry Wan...kebablasan gue. Biasa...semalem kan La Liga."kataku seraya ber toss ria dengannya.

"Yelah...kebiasaan begadang lo ah! Bola mulu."cibir Irwan. Ia memang teman dekatku sejak SD sehingga kami biasa bercanda.

"Daripada lo...cewek mulu."ejekku.

"Yah ealah...daripada lo jones....hahaha..."Irwan tertawa terbahak-bahak.

"Eh, gimana si Icha?  Nggak berhasil lo deketin dia?"
Irwan menyebut nama seorang gadis manis berhijab dan berkulit putih, teman kerjaku dulu.

"Hadeeh, apeslah gue. Mana mau dia ma gue. Nggak ada modal gini gue sekarang,"keluhku seraya teringat Icha yang kuajak nonton dan pulangnya minta ditraktir makan di Aeon Mall Cakung. Di resto Jepang yang mahal pula. Pulang dari mall, uang gajiku sebulan nyaris habis. Setelah itu, ia pun sulit kuhubungi.

"Makanya lo cari kerjaan yang tetap, Dim. Biar ada modal ngegaet cewek." Irwan menyodorkan rokok Gudang Garam kepadaku.

"Yah ini juga lagi cari-cari. Susah sih, gue belum lulus."

"Lulus dululah,"Irwan menghembuskan asap rokok.

"Nunggu lulus kapan? Masih 2 taun lagi."keluhku.

Kugebrak meja. Irwan nyaris terlompat dari duduknya.

"Tapi gue harus sukses, Wan!  Gila lo!  Bokap gue kan udah nggak ada. Adek-adek n Nyokap gue tuh, tanggungjawab gue. Gue harus ngejar karier, nih!" Mataku memerah menyala-nyala

"Mau tau cara cepat dapet duit?  Sini gue bisikin."


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "JANGAN BAPER PART 3 DAN 4"

Post a Comment