PART 1
Tulalit tulalit...
Alarm berbunyi. Aku mengeryitkan kening, berusaha melawan sinar matahari pagi yang muncul dari jendela kamarku.
Kulirik arloji yang tergeletak di meja kecil di samping ranjang. Jam 9.15. Wah, telat lagi nih berangkat kerja, kataku dalam hati. Ah, biarin ajalah. Cuma jaga rental ini. Gaji juga kecil.
Mataku mencari sebungkus Marlboro merah sisa tadi malam. Kosong ? Sial? Kulempar bungkus berwarna putih merah itu ke lantai.
Mataku melirik dompet merk mahal Braün Buffel, hadiah ulangtahun dari mantan pacarku yang bekerja sebagai desainer grafis di jualjual.com
Kosong juga! Sial dan vangke! Ternyata hidupku lumayan apes selama dua bulan terakhir ini! Setelah mantanku meninggalkanku, pekerjaanku hanya sebagai penjaga rental komputer yang gajinya hanya cukup membeli bensin motor dan rokok sebungkus setiap hari. Belum lagi motor kesayanganku, Kawasaki Ninja R500 telah lenyap karena tak sanggup membayar cicilan. Dulu mantan pacarku yang turut membantu membayar DP dan cicilan Ninja biruku. Oalah, dengan tampang pas-pasan dan kantong cekak serta profesi rendahan seperti ini, siapa yang mau melirikku ? Mana motorku sekarang hanya motor Honda Beat, bukan seperti Blue-ku yang dulu.
"Dimas, kamu tuh sudah 25 tahun. Kapan kamu cari kerja yang bener ? Dari dulu kerja diputus kontrak terus,"tegur Mama dengan ketus tadi malam ketika aku baru tiba di rumah setelah seharian main game online di kost teman kuliahku.
"Iya, Ma. Ini juga lagi usaha."kataku lemah seraya menghindari tatapan tajam Mama. Adik-adikku, Renny dan Nisa, menatapku dengan rasa iba.
"Tuh, lihat adikmu si Renny. Untuk bayar uang kuliah aja, dia mesti kerja di butik. Alhamdulillah Nisa masuk SMA Negeri dan nggak butuh biaya banyak. Kamu kan anak laki satu-satunya di keluarga ini, Dimas. Yang paling besar lagi. Mestinya sudah bisa menanggung beban keluarga."
Aku terpekur mendengar keluhan Mama. Beliau memang tidak salah menegurku. Sejak Papa meninggal 3 tahun lalu, aku dan Renny harus bekerja membiayai kuliah kami. Uang pensiun Papa hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan aku dan Renny masih kuliah.
Dulu aku bekerja sebagai waiter di sebuah restoran siap saji ternama di dekat rumah. Hanya bertahan 2 tahun karena pekerjaanku berat sekali, dengan sistem shift dan mobilitas yang tinggi. Belum lagi supervisor restoran yang terkadang rewel dan otoriter. Duh, aku yang biasa bermain di waktu SMA, merasa terbebani dengan pekerjaan ini. Dan menurutku, pekerjaan ini tidaklah keren. Buktinya beberapa SPG mall yang kutaksir tidak ada satu pun yang melirikku.
Aku sempat berkenalan dengan Shinta, gadis yang usianya lebih tua 5 tahun dari aku. Ia menduduki posisi penting di holding company. Asisten manajer marketing. Ia tomboy dan tidak pernah punya pacar. Dengan mudah ia berhasil jatuh ke pelukanku, berkat bujuk rayuku. Ia juga berhasil kurayu untuk membayar DP dan cicilan Kawasaki Ninja berwarna hitam merah yang telah lama kuimpikan. Aku tak tahu mengapa gadis yang terlihat cerdas ini rela berkorban demi aku yang berwajah pas-pasan dan masih kuliah ini? Benarlah kata orang kalau cinta itu buta.
BERSAMBUNG

0 Response to "JANGAN BAPER PART 1 DAN 2 "
Post a Comment