Bermula dari ajakan Ibu Capri Anjaya, ketua organisasi AISEI, kepada saya untuk membantu Beliau sebagai pengurus AISEI untuk divisi ABK atau Anak Berkebutuhan Khusus. Menurut Beliau, AISEI ingin membuka wacana tentang ABK dan memberikan informasi bagi pendidik, orangtua dan masyarakat luas tentang ABK. Awalnya saya merasa agak ragu karena memang baru bulan Juli 2020 ini, saya ditugaskan untuk bertanggungjawab terhadap K Link Care Center Indonesia, sekolah khusus untuk ABK. Namun atas support dari Ibu Capri dan juga rekan-rekan kerja serta yayasan, makanya saya setuju untuk bergabung dengan AISEI.
Kemudian saya membuat rencana progran sharing session tentang ABK setiap sepekan sekali. Kali ini untuk sesi di Sabtu, 22 Agustus 2020, saya yang menjadi nara sumber dan ibu Capri sebagai host di zoom sharing session tentang ABK.
Acara dibuka oleh Ibu Capri sebagai host. Beliau menjelaskan tentang AISEI (Association of International School Educator Indonesia) yaitu organisasi penggerak para pendidik di seluruh Indonesia. AISEI berdiri 2 tahun lalu dan saat ini telah memiliki anggota dari seluruh Indonesia. Sebelum masa pandemi, AISEI mengadakan road show di beberapa tempat. Pada masa pandemi ini, AISEI sangat aktif mengadakan webinar dan sharing session di berbagai bidang, seperti bincang ABK, AISEI writing online, metode pembelajaran digital. Saya merasa bangga dan bersyukur dapat bergabung sebagai pengurus AISEI karena organisasi ini adalah organisasi yang aktif memberikan wawasan tentang pendidikan kepada masyarakat. Ibu Capri adalah seorang motivator, inspirator dan sangat aktif di berbagai organisasi. Tidak hanya di AISEI tetapi juga di BAN Pusat dan di PPSDM. Saya mengetahui ibu Capri ketika beliau pernah menjadi narasumber di Teacher Conference ANPS.
Pada saat sharing session, saya menjelaskan tentang siapakah anak ABK dan tipe-tipe gangguan perkembangan. Lebih khusus saya memaparkan tentang K Link Care Center sebagai layanan pendidikan kebutuhan khusus yang memfokuskan diri terhadap life skill dan pengembangan sosial siswa. Banyak orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus yang belum tahu akan menjadi apa dan akan seperti apa ketika anak mereka lulus dari sekolah nantinya. K Link Care Center memberikan solusi kepada para orangtua bahwa dengan segala keunikan mereka, ABK diarahkan untuk menjadi pribadi mandiri yang sanggup berjuang di masa depan dan bisa berwiraswasta.
Di KLCC, ABK yang bersekolah adalah ABK yang memiliki tipe gangguan seperti down syndrome, celebral palsy, autisme, ADD/ADHD, tuna rungu, tuna daksa, disleksia, delay, dll. Untuk pengelompokan kelas, dibagi menjadi intervensi dini, kelas basic, kelas intermediate dan kelas advance. Masing-masing kelas juga memiliki kriteria tertentu dan mendapatkan prosentase akademik dan life skill. Selain belajar di kelas, siswa juga mengikuti kegiatan seperti field trip, shopping lesson di Transmart Bogor, memasak, berenang, belajar komputer, dan sensori integrasi. Untuk cooking, sudah banyak produk yang dihasilkan oleh siswa KLCC, seperti kue nastar, kaastengels, boba, dsb. Produk tersebut mereka jual di market day yang diadakan oleh pihak sekolah.
Alhamdulillah, sharing session berjalan dengan lancar dan para peserta sangat antusias untuk bertanya. Bahkan KLCC pun diminta membuka cabang di daerah lain, seperti di Sumatera dan Sulawesi.
Nantikan bincang-bincang ABK berikutnya pada 21 September 2020 ya! Pokoknya seru, deh!


acara yang sangat menginspirasi, saya jadi paham tentang anak bekebutuhan khusus atau abk
ReplyDelete