THE DEVIL WEARS PRADA : JANGAN JADI BOSS YANG MENYEBALKAN


  Pertama kali mengenal The Devil Wears Prada bukan dari film yang dibintangi oleh Anne Hathaway dan Meryl Streep, tetapi dari novel karya Lauren Weisberger yang terbit pada 2003.  Pada saat itu, novel chicklit atau chick literature sangatlah populer di kalangan wanita karier berusia 25 - 35 tahun.  Novel jenis chicklit menggambarkan tokoh-tokoh wanita yang hidup di kota besar, penuh keglamoran, tetapi juga mengalami masalah dalam hidup mereka, baik perjodohan maupun pekerjaan.  Novel chicklit pertama yang aku baca adalah Bridget Jones' Diary. Kemudian The Confession of Shopaholic dan Shopaholic Abroad.  Novel-novel chicklit tersebut bertemakan comedy drama yang memang renyah dan enak dibaca.  Sehingga bisa dinikmati sambil ngemil potato chips dan minum coca cola di siang hari, sebelum social media dan internet melanda para mak-mak seantero Indonesia, termasuk saya.

Film ini mengisahkan tentang Andrea Sachs, gadis yang baru lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan yang diimpikan dan berhasil mendapatkan pekerjaan menjadi asisten pribadi kedua Miranda Priestley, seorang Editor majalah fashion terkenal di New York yang bernama Runway.  Mengapa asisten kedua?  Karena Miranda adalah seorang sosialita otoriter dan tidak mau susah yang membutuhkan 2 orang asisten untuk membantunya dalam masalah pekerjaan sampai hal yang pribadi.  Asisten pertamanya adalah Emily Charlton yang bertugas untuk mengatur janji meeting dengan beberapa klien dan punggawa di dunia fashion.  Sedangkan Andrea atau kerap disapa Andy, merupakan asisten kedua yang bertugas untuk membeli sarapan dan makan siang Miranda sampai kopi Starbucks.  Jika boleh dikatakan, tugas Andy mirip dengan tugas asisten rumahtangga.  

Andy berusaha menikmati pekerjaannya meskipun ia dijuteki oleh Emily, si asisten pertama dan harus menghadapi tuntutan pekerjaan yang tak masuk akal seperti mencari dokumen asli novel Harry Potter versi terbaru, yang belum pernah diterbitkan oleh penerbit mana pun, mengantar The Book, mock up majalah Runway yang harus diterbitan keesokan harinya tanpa suara, sampai dijebak untuk merebut kesempatan Emily untuk mengikuti Miranda ke Paris Fashion Week.  

Di akhir cerita, Andy pun meninggalkan pekerjaan yang disebut orang "jutaan gadis rela mati demi pekerjaan indah ini" dan menilih menjadi asisten editor di koran lokal.  Ia tidak tahan dengan politik kantor ketika akhirnya Miranda pun mendepak Nigel, wakil editor majalah dan mengangkat Jacqueline Follet sebagai wakilnya.   Padahal Jacqueline adalah musuh bebuyutannya.  Ketika Andy mempertanyakan kelicikannya tersebut, Miranda hanya menjawab; "Kau pun melakukan hal itu kepada Emily, Andrea".  Andy pun kesal sampai membuang ponsel yang dipinjamkan perusahaan kepadanya.

Ketika membaca novel tersebut di tahun 2003, sahabatku ketika aku bekerja di sebuah perusahaan musik ternama menghubungiku dan sambil tertawa terbahak-bahak kami berdua membayangkan bahwa Miranda Priestley, tokoh otoriter nan bossy itu adalah mantan boss kami.  Dulu posisiku masih sebagai guru junior dan belum memiliki target apapun dalam karier.  Namun ketika saat ini aku menjabat sebagai pimpinan dan duduk di posisi manajerial, aku mulai berfikir, pemimpin  macam apa aku di mata staff dan guru?  Apakah mereka merasakan hal yang sama dengan Andrea?  Atau mereka merasa nyaman dan terbina dengan baik olehku ?

Makna yang bisa kupelajari dari film tersebut, janganlah menjadi boss yang menyebalkan.  Berusaha terus introspeksi diri dan mengembangkan diri menjadi lebih baik.  Apalagi menjadi pimpinan di sekolah yang tentunya harus menjadi contoh bagi siswa dan guru.  Lalu, bagaimana dengan Anda ?  Apakah Anda boss yang menyenangkan atau menyebalkan seperti Miranda Priestley?



















Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "THE DEVIL WEARS PRADA : JANGAN JADI BOSS YANG MENYEBALKAN "

Post a Comment