Pada Sabtu, 28 November 2020 pekan lalu, seperti biasa saya kembali menjadi host di AISEI Inspiraction. Kali ini pembicara yang akan sharing adalah ibu Ning Nathan. Beliau adalah ibu 2 anak special need yang luar biasa, penulis buku, life coach dan juga trainer yang sudah lama bekerjasama dengan penerbit Gramedia. Beliau mengutarakan tentang growth mindset. Saya sendiri baru mendengar istilah tersebut ketika menjadi host di acara AISE Inspiraction.
Sebenarnya apa yang dimaksud oleh growth-mindset? Berdasarkan teori tersebut, bakat dan pengetahuan bisa dikembangkan dengan adanya usaha dari diri seseorang dan seiring berjalannya waktu. Dengan adanya kritikan dan saran dan juga cara kita mencintai diri sendiri dan bersaing dengan diri sendiri, maka seseorang bisa sukses. Biasanya siapa saja yang membutuhkan teori ini? Semua orang membutuhkan, terutama anak berkebutuhan khusus karena pada umumnya masyarakat menganggap mereka adalah orang-orang yang kurang pandai atau kurang beruntung. Bahkan saya mendengar cerita dari sahabat saya yang anak sulungnya mengalami autisme dan teman sekolah dari anak bungsunya tiba-tiba berkata, "Abang kamu gila, ya?". Lingkungan yang membuat mereka terkucilkan dan merasa kurang percaya diri.
Tetapi jika kita memahami teori growth-mindset, di balik ketidaksempurnaan tersebut, pastilah ada kelebihan. Maka yang perlu ditanamkan adalah, tujuan semua manusia adalah belajar. Dengan belajar, maka manusia bisa berkembang dan menjadi maju.
Bagaimana menciptakan growth-mindset di lingkungan sekolah? Guru bisa mengembangkan pembelajaran multisensori, membuat grup yang terdiri dari beberapa anak yang pintar memandu yang kurang sehingga ada peer buddy, memberikan perhatian khusus dan feedback terhadap tugas yang mereka sudah kerjakan dan menciptakan pola pembelajaran bertingkat, yaitu memperhatikan kebutuhan anak yang kurang dalam belajar baru ke anak yang sudah paham.
Beberapa pernyataan juga bisa digunakan menurut teori ini. Guru tidak hanya memuji dalam bentuk "Hebat, kamu mendapat nilai yang bagus!" tetapi menggantinya dengan pernyataan :
"Ibu lihat kamu sangat berusaha mengerjakan tugas ini."
"Ide kamu sangat unik. Dari mana kamu mendapat ide tersebut?"
"Kamu sudah berusaha keras dalam belajar."
Feedback adalah santapan bagi para juara, begitulah yang dikembangkan oleh teori growth-mindset.
Selain itu, di kelas guru juga dapat meminta siswa untuk memiliki rasa tanggungjawab terhadap sesama dan saling membantu. Hal itu dapat menciptakan lingkungan kelas yang nyaman untuk belajar dan mengembangkan rasa percaya diri siswa.
Di akhir sesi, setelah tanya jawab, Ibu Ning memberikan tips teknik relaksasi a la Jepang. Bahwa jari-jari kita jika dipijat dan ditekan lembut, akan mengurangi penyakit dan perasaan negatif dalam diri.
Jika jempol dipijit, maka akan mengurangi rasa khawatir dan bisa meredakan sakit perut
Jika telunjuk dipijit, dapat mengurangi rasa takut
Jika jari tengah dipijit, maka akan mengurangi rasa marah
Jika jari manis dipijit, akan mengurangi kesedihan,
Jika jari kelingking dipijit, akan meningkatkan rasa percaya diri
Jika telapak tangan dipijit, akan membuat diri bahagia
#Day24NovAISEIWritingchallenge
#AISEI
#ningnathan
#Specialneedstudent
#ABK
#Inspiraction


Mksih mbk.. Ilmunya.. Aq blm bs gabung.kmrin.
ReplyDeleteTerima kasih sdh berbagi catatannya mbak Dita
ReplyDelete