SAUDARIKU, KETIKA IA MENINGGALKANMU...


Saudariku,

Kuingat perkenalan pertama kita di sebuah grup  ibu-ibu bahagia. Ketika itu aku menilai dirimu terasa sinis terhadap para istri dan pria beristri. Diriku tertarik untuk menyapamu, menjalin ukhuwwah dengan saudariku. Diri ini ingin bersedekah dan sedekah itu terangkum dalam bentuk empati dan mendengarkan keluh kesahmu.

Meluncurlah kisahmu yang pilu. Di balik keangkuhanmu dan bahasa sarkastis yang kau gunakan, menumpuk segunung cerita sedih yang kau pendam sejak lama.

Saudariku, bermula dari undangan ke grup WhatsApp teman-teman SMPmu. Lalu bercanda ria gelak tawa mengenang masa remaja. Dirimu yang telah menjanda sejak 10 tahun silam, merasa bahagia dan terhibur oleh teman-teman masa kecilmu yang membawa kenangan-kenangan manis di masa lalu.

Ada seseorang -si Fulan- yang dahulu kala menyukaimu. Setelah saling bertukar foto di grup WhatsApp, Fulan menyapamu. Awalnya sapaan biasa. Bertukar cerita tentang keluarga, pekerjaan, rencana reuni yang akan diadakan sebulan lagi. Fulan memiliki dua orang anak, sama seperti dirimu. Perempuan pula.

Saudariku,
Jauh di lubuk hatimu, kau tertarik kepada Fulan. Pria itu sangat perhatian, smart,terkadang penuh humor. Apalagi perawakannya masih gagah di usia separuh baya. Kau yang termasuk tegas dan sedikit galak kepada lawan jenis, mulai tersentuh oleh perhatiannya kepadamu dan kedua putrimu.

Saat reuni tiba. Dirimu bersuka cita menyambut acara temu kangen tersebut. Dan dirimu pun bertemu dengan si Fulan di pintu masuk. Pada saat acara berlangsung, acara yang sarat dengan ikhtilat, gelak tawa antar lawan jenis, wanita-wanita yang bertabarruj demi memikat laki-laki yang datang. Kau pun larut dalam acara itu. Fulan pun menawarkan diri untuk mengantar pulang.

Hari demi hari kau habiskan untuk bertukar pesan di dunia maya dengan si Fulan. Hari-harimu selama 10 (sepuluh) tahun di dalam sepi, mulai berwarna dengan kehadiran Fulan. Bahkan sampai tak kau hiraukan kedua putrimu.

Hubunganmu dengan si Fulan semakin memabukkan. Tak kau hiraukan pula omelan istri sahnya dan kedua putrinya. Kau tidak takut ketika istrinya datang ke kantormu memohon kepadamu untuk meninggalkan suaminya. Kau juga tak takut ketika kedua putri cantiknya menemuimu.

Namun pemberontakan tersebut datang dari kedua putrimu. Putri sulungmu sering bolos dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah menengah kejuruan. Ia protes pada keadaan.

Akhirnya dirimu pun pindah ke pulau seberang demi menyelamatkan kedua putrimu. Meninggalkan si Fulan dan keluarganya. Kau tak ingin jiwa putrimu rusak hanya karena kisah cintamu.

Entah bagaimana caranya, ternyata Fulan sudah sampai di pulau seberang. Dan ia mengajakmu untuk menikah siri. Dirimu tak kuasa menolak mengingat perjuangan cinta Fulan yang begitu beratnya sampai harus meninggalkannya ke pulau seberang. Akhirnya kalian pun menikah.

Singkat cerita kalian pun menjalani kehidupan berumahtangga. Si sulung tidak lagi memberontak. Hanya banyak menghabiskan waktu di kamar dengan buku novel dan gadgetnya. Ia sudah tidak lagi bersekolah. Si bungsu lebih dapat menerima keadaan.

Namun biduk rumahtangga yang memang dibangun tanpa fondasi yang kuat pun semakin lama semakin goyah. Tuntutan moril dan materiil dari istri pertama Fulan beserta kedua putrinya, membuatnya tak kuat mental. Pernikahan  memang satu-satunya jalan bagi kedua insan yang saling mencintai. Tetapi berlaku adil dalam poligami tidaklah mudah. Banyak sekali permasalahan yang dihadapi. Apalagi berumahtangga dimulai dengan kenekadan insan yang dimabuk asmara. Bukan dengan cara yang syar'i.

Setelah setahun bersama, tiba-tiba Fulan meninggalkanmu untuk kembali ke istri pertama dan anak-anaknya. Dirimu pun menjerit. Menuntut hakmu sebagai seorang istri. Apa daya tuntutanmu tidak kuat karena kau hanyalah istri siri. Kau tidak memiliki kekuatan hukum untuk menuntut hakmu sebagai seorang istri. Dan memang pernyataan talak untuk pernikahan siri hanya sebatas diucapkan oleh sang suami. Tidak ada yang namanya sidang perceraian di pengadilan agama.


Lalu bagaimana nasibmu kali ini, Saudariku? Poligami memang syariat Islam yang harus diyakini. Tapi bukan hanya memuaskan diri, namun harus bisa berbuat adil.

Rasulullah bersabda:
“Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.” (HR. Abu Daud no. 2133, Ibnu Majah no. 1969, An Nasai no. 3394.)

Berpoligami butuh keadilan. Berlaku adil inilah yang berat. Karena di antara wasiat Allah yang Dia sampaikan kepada kita di dalam kitab-Nya yang mulia adalah sikap adil terhadap para istri.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 129).

Sikap adil yang dituntut dari seorang suami adalah adil dalam jatah bermalam, adil dalam memberi nafkah dan pakaian. Di sini yang dituntut bukanlah adil dalam kecenderungan hati, sebab manusia tidak mampu menyamakan kecenderungan hatinya.

Saudariku, ketika kau berumahtangga dengan Fulan, ia hanya tinggal denganmu dan kurang peduli terhadap istri pertama dan putrinya. Ia bermalam lebih lama di rumah istri tersebut.  Tindakan seperti ini haram dilakukan, dan pelakunya akan datang pada hari kiamat dalam keadaan pincang.

Kalau memang ingin berpoligami, berlaku adillah. Jangan sekedar memperturut nafsu sehingga cenderung untuk tidak adil dan condong pada salah satu istri atau bahkan sampai melalaikan nafkah atau bahkan sebenarnya tidak mampu, namun memaksa untuk berpoligami.

Saudariku, aku tahu di lubuk hatimu, kau mengakui bahwa dirimu salah dan Fulan tidak mampu berpoligami secara adil. Ikhlaskanlah semuanya, Saudariku. Hapus airmatamu dan bersyukurlah bahwa Allah telah memberi kehidupan yang lebih baik daripada kehidupanmu dahulu. Ambil hikmahnya bahwa kau lepas dari dosa menzhalimi wanita lain.

UMMU NUMA
Thursday, 14 September 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SAUDARIKU, KETIKA IA MENINGGALKANMU..."

Post a Comment