TAARUF TAPI MODUS



Saudariku,

Pernahkah kau mengalami kejadian-kejadian seperti yang dialami -sahabatillahku ini?

CERITA 1

Saudariku, seorang sahabatillah datang kepadaku dan bercerita bahwa ada seorang pria yang sudah berusia cukup matang, ingin dikenalkan dengan seorang wanita yang memiliki pemahaman Islam yang cukup baik dan berakhlak baik.

Aku pun teringat kepadamu, Saudariku. Akhirnya kuhubungi dirimu apakah ingin bertukar biodata dengan ikhwan tersebut. Dirimu menjawab bahwa ingin istikhoroh terlebih dahulu.

Tiga hari kemudian, kau mengabariku  bahwa kau telah mengirim biodatamu melalui surat elektronik. Aku pun meneruskannya kepada sahabatillahku yang mengenal pria tersebut.

Ting! Si pria mengirimkan biodatanya yang segera kuteruskan kepadamu. Dirimu membacanya dengan seksama. Sebagai seorang muslimah yang baik dan taat, dirimu berfikir positif dan tidak memandang rendah si pria yang bertubuh tambun dengan berat 100 kg. Bagimu, keimanan dan budi pekerti lebih utama daripada fisik.

Hari berganti hari. Pekan berganti pekan. Tiba-tiba si pria meminta fotomu melalui sahabatillahku. Sedikit kecurigaan merayapi hatiku. Tetapi kucoba berbaik sangka demi kebahagiaan pasangan yang sedang bertaaruf dan berniat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Setidaknya mereka berusaha menghindari zina dan harus kuhargai hal itu.

Setelah foto terkirim, tidak ada kabar apapun dari si pria. Si wanita bertanya padaku, mengapa si pria tidak berkabar untuk bertemu. Aku tak kuasa menolak permintaannya. Karena merasa kasihan sekaligus penasaran mengapa si pria tak berkabar, akhirnya kutanyakan kepada sahabatillahku. Dua hari kemudian si pria mengatakan ingin bertemu di bulan Oktober. Mengapa begitu lama? Ujarku. Akhirnya pertemuan mereka berdua dengan aku dan sahabatillahku menemani mereka, terjadi di masjid Istiqlal. Kalian berdua tak banyak bicara. Hanya mata saling melirik malu.

Sepekan kemudian, aku mendapat kabar bahwa si pria tidak mau meneruskan taaruf dengan alasan tidak memiliki perasaan khusus terhadap si wanita. Dengan lesu, kau pun menerima keputusan tersebut, meskipun awalnya kau sempat berharap. Mungkin karena usiamu sudah menjelang kepala 3 dan ingin segera menikah.

CERITA 2

Saudariku,
Di siang hari yang terik, seorang pria, kawan lamamu, menghubungimu. Kawanmu ingin mengenalkanmu kepada teman lamanya.

Sesungguhnya Saudariku agak ragu. Karena kau trauma dengan perkenalan atau taaruf yang beberapa kali gagal. Namun demi menghormati kawanmu yang telah banyak mendukungmu secara moriil, kau terima ajakan perkenalan itu.

Akhirnya pria itu pun menghubungimu. Awalnya via messenger. Tapi lama kelamaan pria itu menelepon dan meminta  fotomu. Kau pun sungguh risih. Hal itu tentunya bertentangan dengan konsep taaruf yang sesuai sunnah Rasulullah.

Lambat laun pria itu pun berani mengajakmu bertemu dengan alasan nazhor dan ingin serius menikahimu. Kau menurut saja karena tidak ingin mengecewakan orang lain dan berusaha berhusnuzhon dengan orang yang memiliki niat baik melamarmu.

Setelah pertemuan tersebut, kau melaksanakan sholat istikhoroh. Entah mengapa kejadian yang membuatmh trauma muncul kembali. Akhlak buruk si pria dan omong kosongnya pun mulai tampak.

Allah memang Maha Adil. Tak diizinkan Nya kau berpasangan dengan seseorang yang akhlaknya tidak baik.

Sungguh sangat disayangkan, di akhir zaman ini banyak ikhwan yang modus berkedok taaruf. Sebenarnya apa sih, makna taaruf?

Ta’aruf itu sendiri  adalah proses saling mengenal antara dua orang lawan jenis yang ingin menikah. Jika diantara mereka berdua ada kecocokan maka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan, namun, jika tidak, maka proses berhenti dan tidak berlanjut.

Islam tidak melarang ta’aruf , dalam sebuah hadits disebutkan, “Dari Anas bin Malik bahwa al-Mughirah bin Syu’bah ingin menikah dengan wanita, maka Rasulullah Ṣallāllāhu‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Pergi lalu lihatlah dia, sesungguhnya hal itu menimbulkan kasih sayang dan kedekatan antara kalian berdua.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no.1938 dan dinilai shahih oleh Syekh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah)

Dan saat seorang lelaki ingin melihat wanita yang ia lamar, maka ia harus memperhatikan rambu-rambu nazhar yang telah dijelaskan oleh Syekh Utsaimin rahimahullah dalam Syarhul Mumti’ XII/22 sebagai berikut:
1. Tidak berkhalwat (berdua-duan) dengan seorang wanita tatkala memandangnya. Untuk menjauhi khalwat ketika nazhar, maka ia bisa melihat wanita yang ingin ia pinang ditemani wali si wanita atau jika tidak mampu maka ia bisa bersembunyi dan melihat wanita tersebut di tempat di mana ia sering melalui tempat tersebut.
2. Hendaknya memandang dengan tanpa syahwat, karena nazhar (memandang) wanita ajnabiyah karena syahwat diharamkan. Selain itu, tujuan dari melihat calon istri adalah untuk mengetahui kondisinya bukan untuk menikmatinya.
3. Hendaknya ia memiliki prasangka kuat bahwa sang wanita akan menerima lamarannya.
4. Hendaknya ia memandang kepada apa yang biasanya nampak dari tubuh sang wanita, seperti muka, telapak tangan, leher, dan kaki.
5. Hendaknya ia benar-benar bertekad untuk melamar sang wanita. Yaitu hendaknya pandangannya terhadap sang wanita itu merupakan hasil dari keseriusannya untuk maju menemui wali wanita tersebut untuk melamar putri mereka. Adapun jika ia hanya ingin berputar-putar melihat-lihat para wanita satu per satu, maka hal ini tidak diperbolehkan.
5. Hendaknya sang wanita yang dinazhar tidak berhias, memakai wangi-wangian, memakai celak, atau yang sarana-sarana kecantikan yang lainnya.

Saudariku, jika dilihat dari pengalamanmu dengan para pria tersebut, mereka sepertinya hanya ingin mencoba berkenalan, melihat-lihat mana yang cocok atau tidak secara fisik.  Sebab, jika sudah memahami namun malah berperilaku hanya ingin melihat-lihat dan mempermainkan maka hal tersebut termasuk  dosa besar, yaitu memperolok agama (istihzaa’). Naudzubillahi min dzalik.


UMMU NUMA

Saturday,  16 September 2017

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TAARUF TAPI MODUS "

Post a Comment