SAUDARIKU, KETIKA KAU CURHAT KEPADA SUAMI ORANG...



CHAT 1

"Mas...aku lagi BT nih...unmood deh, pokoknya..." 😥😥😥
"Ada apa, Dek? Kok kayaknya lesu banget..."
"Iya nih...anakku semalam demam. Mana hari ini banyak kerjaan lagi, harus masuk kerja. Jadi terpaksa deh...dia ditinggal di rumah sama Omanya."
"Yaa Allah...sabar ya Dek...nanti izin pulang cepat saja, sama boss kamu. Terus bawa si kecil ke dokter. Perlu aku antar nggak?"

CHAT 2

"Hallo, Adek Cantik."
"Hello, Mas ganteng...ah...ada2 aja Mas ini pagi2 sudah ngegombal."
"Lho...memang kamu cantik kok. Coba dong foto buat aku pagi ini..."

Pic sent

"Cakeb deh! Bagusan foto yang ini kayaknya.."
"Iiih Mas...dapat dari mana fotoku yang itu?"
"Dari FB kamu."
"Idiih iseng. Alay, ih 😂😂😂"
"Ya gpp. Sapa sih yang nggak suka sama kamu. Habis kamu cantiiik sih 😘😍"

CHAT 3

"Good morning, Cantik."
"Morning. Mas, makasih yaa... Sudah dibeliin tas."
"Kamu suka, nggak?"
"Sukaaaaa pake banget, Mas. Warnanya tuh cantik banget...cocok sama warna2 bajuku."
"Cantik kayak orangnya, ya 😉"
"Hehehe lebay banget! Mas juga ganteng. Anyway, thx a lot yaaa Mas...sukaaaak deh.
"You're welcome 😍😘"

Saudariku, percakapanmu dengan pria itu layaknya dua orang berlawanan jenis yang masih belum menikah.  Dua ciptaan Allah yang saling berinteraksi, saling mengisi hari, saling memuji, saling memberikan perhatian -bahkan saling memberikan hadiah-. Cukup bagiku untuk tahu bahwa kalian sedang dimabuk asmara.

Saudariku yang cantik, aku tahu kita adalah wanita. Wanita itu seperti gelas-gelas kaca. Yang lemah. Yang mudah baper dengan hujanan  perhatian dan kiriman hadiah dari seorang pria. Apalagi pria tersebut setiap hari menyapa via messenger, memberi perhatian, mensupport dan memberi hadiah.

Setiap kau bangun tidur, yang kau lakukan bukanlah berdzikir dan segera ke kamar mandi untuk wudhu. Tetapi kau raih telepon pintarmu dari atas meja dan kau telusuri pesan demi pesan yang masuk. Apakah ada dari pria pujaan hatimu itu. Jika ada, hatimu langsung membuncah bahagia, berbunga-bunga seperti disiram air hujan setiap hari. Kupu-kupu serasa berterbangan di perutmu.  Sulit diungkapkan bahagianya hatimu saat itu.

Jika si dia tidak berkabar, kau pun merasa sedih dan terluka. Merasa diabaikan. Nggak mood. Galau. BT. Ingin mandi dan berangkat bekerja rasanya malas sekali. Makan pun tak enak. Sarapan nasi goreng lezat dengan tomat merekah dan telur mata sapi pun kau abaikan.

Anakmu merengek minta diantar ke sekolah kau abaikan. Di perjalanan pun kau tidak berkonsentrasi untuk mengendarai mobil.

Tiba di kantor, yang kau sambar dari dalam tasmu adalah HP. Ah, ini dia! Pesan masuk dari si dia. Akhirnya kau sambi pekerjaanmu dengan berbalas pesan dengannya, memanfaatkan waktu yang ada.

Saudariku, betapa bahagianya dirimu ketika berbalas pesan dengannya. Betapa berbuncahnya hatimu membaca rayuannya. Serasa dunia pun milik berdua.

Sore menjelang, rasanya kau tak ingub beranjak dari dudukmu. Tak kuasa rasanya meninggalkan chat mesra dengan si dia. Perjalanan berkendara menuju rumah, membuatmu harus meninggalkan percakapanmu dengan si dia selama 2 jam. Kau tak kuasa. Rasanya seperti bertahun-tahun tidak bertemu.

Ketika kau tiba di rumah, menjelang Isya, si bungsu meminta perhatian. Minta disuapi, minta dibuatkan susu coklat hangat. Bebersih diri dan makan malam kau lewati dengan cepat agar bisa menggapai ponselmu lagi.

Namun ketika semua urusan domestikmu telah selesai, yang ditunggu tak kunjung berkabar. Dan akhirnya...pada pukul 22.15

CHAT

"Adek, maaf yah. Aku buru-buru nih. Aku nggak bisa chat kamu. Kamu jangan chat aku yah...nanti istriku ngecek HPku. Bye...good night. Please jangan dibales."

Oh Saudariku, kau pun menjerit. Maaas, betapa rindunya aku padamu. Telah kunanti berjam-jam, sampai kuabaikan anak-anakku, tapi kau abaikan aku. Aku memang bukan siapa-siapa bagimu. Pola hubungan kita selalu seperti ini. Mas....berjumpa,berkenalan, saling menyapa dan bye....kau pergi begitu saja.

Saudariku yang baik, tidakkah kau sadari bahwa hal itu sangat menyakitkan?  Sampai kapan kau akan menggantungkan harapanmu kepada si dia yang telah beristri dan memiliki dua orang putri?

Saudariku, kau berkata padaku bahwa laki-laki berhak untuk berpoligami. Poligami adalah syariat Islam. Tapi tegakah dirimu memulai suatu pernikahan yang suci dengan kemaksiatan seperti ini?  Tegakah kau dengan istri si dia yang telah bertahun-tahun menemaninya, jatuh bangun membina rumahtangga, mengandung dan melahirkan anak-anak mereka yang lucu, mengurus suami, anak-anak dan rumahtangga?  Kau pun pernah merasakan meskipun gagal. Dan kau sendiri tahu betapa sulitnya membangun rumahtangga.

Katamu pada suatu ketika padaku. Si dia bercerita bahwa istrinya bawel dan pemarah. Sudah tidak muda lagi. Sudah tidak cantik dan tidak langsing lagi. Saudariku, hari ini kau disanjungnya. Kau dipujanya. Tapi mungkin jika kau bersanding dengannya, tidak menutup kemungkinan kata-kata yang sama ia lontarkan pada selingkuhan berikutnya tentang dirimu.

Saudariku, jangan membangun kebahagiaan dengan merusak rumahtangga orang lain. Jaga dirimu, jangan sampai menjadi duri yg menyakitkan dan meruntuhkan rumah tangga pasangan suami istri. Poligami dalam ISLAM memang diperbolehkan, namun jangan pernah mengawalinya dg perselingkuhan.
Berdalih hanya teman, curhat soal kekurangan pasangan yg belum tentu itu benar dan berujung pada perhatian. Bisa jadi itu adalah tipu daya syaithan untuk menggoyahkan komitmen dengan  membuka tabir yg harusnya benar-benar dijaga.

Betapa banyak orang lain yg syaitan jadikan indah hingga kita merasa pasangan tak menarik lagi. Ingatlah bahwa syaithan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia

Prestasi terbaik syaithan itu memisahkan orang yg ingin bersatu ataupun sudah dalam pernikahan. Maka jangan pernah jd pembantu syaithan dengan merusak hubungan orang lain.  Posisikan dirimu jika kau menjadi istri sah si dia. Sudikah dirimu berbagi cinta dengan seorang selingkuhan, pada saat dirimu telah menempuh suka duka berumahtangga, harus mengalah untuk suami dan keluarga suami,  menjadi tidak menarik karena telah mengandung dan melahirkan anak-anak?

Wahai Saudariku,
Keputusan tetap ada di tanganmu. Tapi layaknya gelas-gelas kaca yang rapuh, kau akan retak jika harus selalu menggantungkan nasibmu yang tidak jelas kepada si dia. Poligami yang diawali dengan perselingkuhan tidaklah baik. Pernikahan adalah ibadah terlama sehingga perlu hati-hati dalam memilih pasangan dan proses menuju pernikahan itu sendiri. Jika kau tetap dalam posisi Sephia ini, kau sendiri yanv akan rapuh dan terluka. Sampai kapan kau akan digantung seperti ini?

Saudariku, jika kau letih, tengoklah wajah anak-anakmu. Mereka sangat membutuhkanmu. Jangan buang waktu berhargamu untuk sesuatu yang haram dan mengorbankan tanggungjawabmu sebagai seorang Ibu. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat tentang pendidikan anak-anak kita.

Jika kau sedih dan lelah, hamparkan sajadah. Menangislah. Minta ampun kepada Nya. Minta petunjuk Nya. Rasakan bahwa kasih sayang Nya melampaui batas. Ia tidak akan pernah meninggalkanmu. Ia tidak akan membuatmu bersedih. Ia selalu ada untukmu.

Bangkitlah, Saudariku. Bersimpuhlah di hadapan Nya. Mulai hidup baru untuk sesuatu yang diridhoi Nya.

💝 UMMU NUMA 💝

Wednesday, 6 September 2017












Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SAUDARIKU, KETIKA KAU CURHAT KEPADA SUAMI ORANG..."

Post a Comment